by

SEPUTAR TANYA-JAWAB DENGAN KYAI SOAL PENGHORMATAN TERHADAP SESAMA MUSLIM DAN BAHKAN NON-MUSLIM

-Berita-10 views

———————————–
Tajuk Opini
Oleh: HAIDAR ALWI INSTITUTE/ HAI
————————————-

JAKARTA,(05 November 2020)

Hadirin Bertanya:

Assalamu ‘Alaykum Wr. Wb
Dalam ceramah yang disampaikan Kyai, disebutkan adanya penghormatan kepada sesama Muslim dan Non-Muslim dan juga dalam hubungan sosial yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita antara Muslim dengan Non-Muslim. Mohon dijelaskan batasan-batasannya sejauh mana?

Kiyai Menjawab:

Assalamu ‘Alaykum Wr. Wb
Dalam menyikapi persoalan ini kita sebagai Muslim harus realistis dan dengan pemikiran yang terbuka, misalnya dalam kehidupan sehari-hari kita tak lepas dari handphone/smartphone yang nyata-nyata buatan Non-Muslim, apalagi beras sebagai bahan makanan pokok kita yang di impor dari Vietnam negara Non-Muslim.

Karpet yang ada di Mesjid dan Tekstil sebagian besar buatan orang India beragama Hindu, dan apalagi Listrik jika kita belajar sejarah adalah hasil karya dari Thomas Alfa Eddison, Kristiani dari negeri Barat, jika ditotalkan banyak barang-barang atau karya Non-Muslim yang sudah menjadi kebutuhan Muslimin. Ini fakta nyata dan bahkan barang-barang yang tak bisa kita lepas tersebut kita manfaatkan dalam dakwah dan kegiatan-kegiatan keagamaan Muslimin.

Kebersamaan Muslimin dengan Non-Muslim dalam kehidupan sosial kemasyarakatan adalah sebuah realita. Kebersamaan di dunia tidak dibatasi dengan agama, malah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Sebagaimana dalam nasehat Gus Dur bahwa setiap perbuatan baik seseorang tidak akan ditanya apakah agamanya atau bahkan mazhabnya tapi yang dinilai adalah perbuatan baik itu sendiri. Soal pahala dari Allah SWT atas perbuatan baik itu sendiri itu adalah hak prerogatif Sang Khaliq, bisa jadi dibalas di dunia atau dibalas di akhirat.

Hanyalah Allah SWT yang memutuskan seseorang masuk surga atau neraka, sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Innalladzina Amanu walladzina Hadu wash-Shabi’ina wan-Nashara wal-Majus walladzina Asyraqu, Innallaha yafshilu baynahum Yaumal-Qiyamah. Innallaha ‘ala kulli Syay’in Syahid”*

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang Musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”
(QS. Al-Hajj, ayat 17)

Dalam ayat diatas jelas bahwa Allah SWT akan beri keputusan terhadap mereka nanti di akhirat pada hari kiamat. Janganlah kita sok tahu dengan mengambil hak prerogatif Allah SWT dengan menentukan seseorang akan masuk surga atau neraka.

Sedangkan saya belum yakin apakah saya layak untuk masuk surga? Apakah cukup dibayar hanya dengan bersujud? Kita harus memahami tidak semudah itu masuk surga dan meskipun kita tahu tahap-tahap ibadah kita diterima oleh Allah SWT tetap saja kita belum bisa memastikannya.

Marilah kita berlomba-lomba berbuat kebaikan selama di dunia sebagai bekal menuju akhirat. Kita ciptakan negeri yang aman, adil, makmur dan sejahtera. Terjadinya hubungan kerja sama antara Muslim dengan Non-Muslim baik pribadi atau kelompok dan bahkan antar negara atau antar agama. Dan sudah terbukti kerja sama tersebut membawa kebaikan dan kemajuan satu sama lain. Dan sesuai fakta yang kita lihat di negara-negara mayoritas Muslim justru terjadi banyak peperangan sedangkan di negeri-negeri Barat justru terciptanya kedamaian. Sesuai data statistik, manusia di dunia berjumlah 8 Milyar dan umat Islam adalah minoritas, hanya 1,5 Milyar dan itupun dengan beragam mazhab (aliran).

Jadi selama di dunia kita berkarya dengan baik demi kemajuan pribadi dan bangsa. Kita juga dituntut untuk mampu bekerja sama agar karya kita teruji dan diakui oleh dunia. Adanya pertukaran pelajar, pelajari budaya luar negeri demi memahami adanya keragaman budaya dan karakter setiap bangsa.

“Wa Ja’alnakum Syu’uban wa Qaba’ila Lita’arafu.”
“Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar supaya kamu saling kenal-mengenal.”
(QS. Al-Hujurat, ayat 13)

Selama kita di dunia adalah urusan di dunia sebagai bekal menuju akhirat, dan di akhiratlah urusan dengan Gusti Allah SWT. Al Qur’an pernah menegur kita dalam ayat sebagai berikut:

“Amhasibtum an Tadkhulul-Jannata wa lamma ya’tikum matsalulladzina khalau min qablikum, massathumul-Ba’sau wadh-Dharrau wa Zulzilu hatta yaqular-Rasulu walladzina Amanu ma’ahu mata Nashrullahi, ala inna Nashrallahi Qarib”*_
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
(QS. Al-Baqarah, ayat 214)

Dalam ayat ini disebutkan betapa perjuangan secara komunal dalam kehidupan sosial sangatlah berarti dan juga menerima ujian Allah SWT mempunyai nilai tersendiri, inilah yang dimaksud dengan _Mu’amalah_ yakni Ibadah Sosial, misalnya bekerja sama agar negeri makmur, adil dan sejahtera. Menyantuni Anak Yatim. Rumah Panti Jompo terealisasi dengan baik, itulah jalan menuju surga. Sedangkan Ibadah _Mahdhah_ seperti shalat dan puasa itu adalah ibadah bersifat hubungan pribadi kita dengan Allah SWT.

Kesimpulan jalan menuju surga adalah setelah sukses dalam hal ibadah _Mahdhah_ (niat yang baik, kejernihan hati dan keshalehan pribadi), marilah kita bersama-sama membangun Keadilan Sosial. Kita berani korbankan waktu dan harta kita untuk terealisasinya Keadilan, Kemakmuran dan Kesejahteraan.(Editor Redaksi; Ipri)

(Oleh Haidar Alwi Institute (HAI)/ Foto:Istimewa)

News Feed