by

Pengamat Khawatir Ada Tumpang Tindih Kewenangan Jika TNI Atasi Terorisme

-Nasional-11 views

Jakarta,jurnas.id – Pengamat intelijen dan terorisme Stanislaus Riyanta, menilai akan ada tumpang tindih kewenangan jika rencana pelibatan TNI dalam mengatasi aksi terorisme, terwujud.

Ia mengakui jika TNI hebat dalam penindakan aksi teror. Namun, kata Stanislaus perkara terorisme bukan hanya penindakan.

“Densus 88 bekerja tidak hanya penindakan tapi mereka juga lakukan pembinaan, mereka lakukan penyadapan. Bayangkan Densus 88 lagi lakukan penyelidikan tapi ada institusi lain masuk, mereka menangani obyek yang sama,” ujar Stanislaus dalam webinar ‘Menguji Pelibatan TNI dalam Penanganan Terorisme: Ancaman atau Perlindungan’ yang digelar di Jakarta, Kamis (8/10/2020).

Ia memperkirakan tindak terorisme ke depan bukan lagi melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata secara terbuka. Tapi melalui sel-sel kecil.

“Ke depan, sel terorisme yang bergerak seperti di Surabaya dan penusukan Pak Wiranto, itu sel-sel kecil yakni sel keluarga. Bagaimana ini jika ditangani standar militer? Tentu ini akan menjadi ramai,” jelas Stanislaus.

Dirinya berharap agar penanganan aksi terorisme fokus pada pencegahan, yang melibatkan masyarakat sipil. Tujuannya untuk mendeteksi secara dini rencana aksi teror.

“TNI tak mungkin ditolak penanganannya dalam aksi teror tetapi tetap diberi ruang kapan TNI harus terlibat, kewenangan siapa, jangan sampai tumpang-tindih,” kata dia.

“Saya berharap bisa diatur dalam UU Perbantuan Militer. Mungkin akan lebih baik daripada dicampuradukkan dalam UU Nomor 5 Tahun 2018. Pasal 43 direvisi tapi peran TNI harus diakomidir dengan lebih baik, mungkin itu bisa jadi solusi,” imbuhnya. (TAN)

News Feed